KADER PARTAI AMANAT NASIONAL UTAMA ANGKATAN KE IV 2004   
Tampilkan postingan dengan label Banjir Melanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjir Melanda. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 10, 2010

Tondano Meluap, Manado Dilanda Banjir

Jumat, 10 Desember 2010 | 02:43 WIB
ILUSTRASI Manado
MANADO, KOMPAS.com - Sejumlah kawasan di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (10/12) dini hari, dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Tondano, menyusul hujan deras yang mengguyur kota Manado sejak Kamis malam mulai pukul 19.00 Wita.

Sebagian warga yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) Tondano mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena rumahnya terendam. Menurut warga yang turut mengungsi, Cahya Sumirat, sejumlah daerah yang tenggelam antara lain Dendengan Dalam, Kampung Ternate, Wonasa, Komo Luar yang ada di Kecamatan Tikala.

"Air naik mulai Kamis malam pukul 21.00 Wita. Warga mulai mengungsi pukul 24.00 Wita," kata Cahya. Ia mengungsi dengan membawa keluarganya di dalam mobil yang lalu diparkir di Jalan Martadinata. Sebagian warga yang rumahnya tenggelam mengungsi ke jalan raya dan gereja yang posisinya lebih tinggi. Sepanjang Jalan Pall 2, mulai dari Pasar Segar hingga SPBU Pall 2 dipenuhi pengungsi.

Jumat, Oktober 29, 2010

Foke Akan Belajar Drainase ke Eropa

BANJIR JAKARTA
Foke Akan Belajar Soal Drainase
JAKARTA, KOMPAS.com - Pertemuan Asia-Eropa atau Asia-Eropa Meeting (ASEM) pertama kali untuk para gubernur dan walikota yang digelar di Jakarta, 28-29 Oktober, tidak akan disia-siakan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Foke mengatakan akan turut belajar dari pengalaman kota-kota lain di Asia dan Eropa soal drainase.
"Itu infrastruktur yang saya katakan tadi. Iya, pasti," ungkapnya usai membuka ASEM untuk gubernur dan walikota di Hotel Kempinski, Kamis (28/10/2010).
Belajar tentang drainase akan masuk dalam sub bidang infrastruktur yang akan didiskusikan dalam pertemuan ini. Dalam pertemuan ini, hadir sembilan kota besar lainnya di Asia dan Eropa, seperti Berlin (Jerman), Bangkok (Thailand), Vientiane (Laos), Rotterdam (Belanda), Seoul (Korsel), Tokyo (Jepang), Brunei Darussalam, Manila (Filipina) dan Phnom Penh (Kamboja).
Tentu saja, lanjutnya, ini terkait pula isu lingkungan hidup, perubahan iklim, kependudukan dan kualitas hidup masyarakatnya. "Ya jelas, kita belajar juga isu environment, apa yang kita bisa pelajari dari negara-negara seperti Finlandia, Belanda, atau negara-negara Mediterania," tambahnya.
Menurut Foke, kota-kota besar memiliki isu dan tantangan yang sama, yaitu masalah kependudukan. Jumlah penduduk terus bertambah dan pemerintah kota dihadapkan pada keterbatasan kemampuan untuk mengembangkan sarana dan prasarana.
Sejumlah tamu kehormatan yang hadir yaitu Wakil Menlu Triyono Wibowo, Head of European Delegation for Indonesia and Brunei-Darussalam Julian Wilson, Director of Community and Corporate Affairs ASEAN Secretariat George Lee, Deputi Sekjend OECD Mario Amano, Gubernur Bangkok Sukhumband Paribatra, Wagub Phnom Penh Someth Nuon, dan Wakil Walikota Seoul Kyung-Wong Chung

Banjir Sampai Ke Kota Tangerang

BANJIR
Lokasi Banjir di Tangerang Bertambah

TANGERANG, KOMPAS.com — Satuan Tugas Koordinasi dan Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Alam Pemerintah Kota Tangerang mencatat, sebanyak 11 kompleks perumahan dan satu perkampungan warga yang terendam banjir setelah Kali Angke, Cantika, dan Wetan meluap, Senin (25/10/2010) malam hingga Selasa (26/10/2010).
Ke-11 kompleks itu adalah Wisma Tajur serta Puri Kartika Lama dan Baru di Kecamatan Ciledug; Griya Kencana 2, Ciledug Indah 1, Ciledug Indah 2, Kompleks Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehutanan, Duren Vila, dan Pondok Bahar di Kecamatan Karang Tengah. Selanjutnya, Pinang Griya dan Pinang Indah di Kecamatan Pinang, serta Kampung Candulan Kelurahan Petir Kecamatan Cipondoh. Untuk kedalamannya bervariasi antara 60-100 sentimeter.
Wali Kota Tangerang Wahidin Halim mengatakan, banyaknya kawasan perumahan yang terendam banjir karena penataan kota sudah salah sejak awal. "Kawasan perumahan, termasuk yang terendam air ini adalah daerah resapan air, antara lain berbentuk tanah persawahan. Akan tetapi, karena desakan penataan ruang sejak awal sudah salah ditambah lagi tuntutan kebutuhan rumah semakin tinggi, maka kawasan persawahan berubah menjadi lokasi perumahan," jelas Wahidin